Minggu, 21 Juli 2024

HARDIKNAS 2024: MERDEKA BELAJAR ATAU BELAJAR YANG MERDEKA

“Bergerak Bersama, Lanjutkan Merdeka Belajar” menjadi Tema peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2024 ini. Merdeka belajar menjadi topik yang terus ramai dalam kurun waktu tiga tahun terakhir ini.  Pernahkah kita berpikir apakah sama makna dari kedua kata ini ketika dibalik?

Merdeka belajar adalah salah satu inovasi dari Menteri Pendidikan Indonesia yang memberikan kebebasan pada suatu Lembaga pendidikan dan otonominya, dan merdeka dari birokratisasi, dimana pengajar dapat kebebasan dari birokrasi yang rumit serta peserta didik yang diberikan kebebasan untuk dapat memilih bidang yang mereka sukai (Iwan.S:2020). Lahirnya program merdeka belajar ini karena adanya banyak keluhan di sistem Pendidikan, yang dimana salah satu keluhannya adalah soal banyaknya peserta didik yang ditarget dengan nilai-nilai tertentu. Diharapkan dengan adanya program merdeka belajar ini peserta didik dan guru dapat bebas dan berinovasi dalam belajar. Merdeka belajar merupakan kemerdekaan dalam berpikir, kemerdekaan berpikir ini wajib ada pada guru terlebih dahulu. Peserta didik tidak akan merdeka kecuali gurunya sudah merdeka terlebih dahulu (Rosyidi.U:2020).

Selanjutnya, jika dibalik menjadi belajar merdeka, maka tentu aneh makna katanya, dan diperlukan satu konjungsi “yang” agar tidak kehilangan makna. Belajar yang merdeka merupakan proses belajar yang jauh dari kata menderita. Justru belajar yang merdeka ini memberi makna bahwa proses belajar sungguh menyenangkan. Namun, pada paragraf sebelumnya telah dicantumkan bahwa ada kemerdekaan dalam berpikir, ada kebebasan dalam berpikir. Namun, di sisi lain, banyak orang berpendapat bahwa, merdeka belajar adalah belajar yang merdeka, sebebas-bebasnya kami para guru untuk meramu materi pembelajaran, sebebasnya kami para guru untuk mengelola kelas, dan sebebas siswa juga untuk memilih manakah materi yang mereka akan pelajari.

Pada kenyataannya, tidak demikian yang dimaksud. Merdeka belajar atau belajar yang merdeka, tentu punya tujuan, jika punya tujuan, maka tentu punya rambu-rambu yang harus dipatuhi, bukan hanya untuk siswa, namun juga untuk guru. Asumsi utama merdeka belajar adalah pemberian kepercayaan kepada guru sehingga guru merasa merdeka dalam melaksanakan pembelajaran (Koesoema, 2020). Merdeka  belajar  adalah    kemerdekaan berpikir  dimana  esensi  kemerdekaan  berpikir  ini harus ada di guru terlebih dahulu (Priatma, 2020). Penerapan kebijakan merdeka belajar menguatkan berbagai peran guru dalam proses pembelajaran. Guru tidak dapat memainkan hanya satu peran melainkan berbagai peran dijalankan oleh guru baik dalam mendesain pembelajaran maupun  dalam melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran untuk membantu siswa mencapai kompetensi yang diharapkan. Dan merujuk dari berbagai sumber  maka dapat dikemukakan peran-peran guru yang relevan dalam implementasi kebijakan merdeka belajar.

Dengan kata lain, konsep merdeka belajar mengurangi beban guru yang berkutat dengan pembuatan administrasi pendidikan, dari tekanan politisasi pendidikan untuk lebih leluasa dan bebas melaksanakan dan  menilai hasil belajar siswa (Yamin & Syahrir, 2020).  Salah satu peran guru adalah melaksanakan inovasi pembelajaran untuk menjawab kebutuhan siswa dan menciptakan iklim pembelajaran yang memerdekakan. Inovasi pembelajaran diharapkan mampu membantu siswa untuk merdeka berpikir, merdeka berinovasi, belajar mandiri dan kreatif, merdeka belajar untuk kebahagiaan.  Peran guru dalam inovasi pembelajaran melahirkan guru inovatif. Menurut James M. Cooper  dalam Zunidar (2019) sebagai guru inovatif maka guru bertanggungjawab membantu siswa untuk belajar dan berperilaku dengan cara baru yang berbeda. Hal ini berarti bahwa guru harus memeiliki pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai yang diandalkan. Guru menguasai berbagai metode, strategi, dan media pembelajaran terbaru. Bahkan guru menguasai teknologi pembelajaran untuk menunjang kegiatan pendidikan.  Dalam pandangan  Rusby dalam  Susilo & Sofiarini (2020), guru inovatif adalah guru yang berdaya saing selain karena inovatif, kreatif dan kritis  melainkan juga menguasai teknologi inovatif yang didesain dan diterapkan dalam pembelajaran. Sekali lagi, jangan bingung saat disuguhkan merdeka belajar atau belajar yang merdeka.

 

 

 

 

 

Titimangsa: Lanud Sultan Hnd, 02 Mei 2024

 Bionarasi :


Nur Athirah Syam adalah alumni dari sekolah Angkasa mulai TK, SD, SMP dan SMA. Uniknya lagi, saat ini ia kembali mengabdi sebagai PNS guru di SMP Angkasa Lanud Sultan Hasanuddin Kabupaten Maros. Sangat menyukai literasi karena keyakinannya menulis hal yang baik merupakan salah satu langkah awal setiap insan untuk terus bersinergi mendukung Maros kampung halamannya menjadi Kabupaten Literasi.
Ingin mengenalnya lebih dekat bisa ke akun sosmed

Instagram @ath_irah0804





Note: Artikel ini JUARA MENULIS NASIONAL DALAM RANGKA HARDIKNAS 2024 Karya Artikel Pendidikan Merdeka Belajar atau Belajar yang Merdeka dalam Buku Hanya Menunggu Waktu (penerbit: Antero Publishing - Mei, Juni 2024)

Serta Menerima Penghargaan dari Bupati Maros Prestasi Guru di Hari Jadi Maros ke 65 tanggal 04 Juli 2024.